Proposal PTK IPA2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai suatu ilmu, Matematika sering diartikan sebagai ilmu tentang bilangan dan bangun-bangun (bangun-bangun datar dan bangun-bangun ruang), yang berlandaskan pada logika. Pengertian matematika tersebut dipandang secara sempit. Secara luas Matematika dapat diatikan sebagai suatu ilmu tentang pola dan struktur yang berdasarkan pada logika (Soewarsono, 2008:2). Pengertian semacam itu hampir sudah dipakai dan disetujuai oleh banyak guru dalam suatu pembelajaran. Definisi tersebut memungkinkan setiap orang belajar metematika berproses melalui suatu prosedur dan mengolah bilangan-bilangan dalam menyeleseaikan masalah. Definisi tersebut juga memberikan pengertian yang terlalu dalam bagi siswa yang hendak belajar matematika. Tanpa disadari pengertian matematika yang demikian dan direfleksikan dalam pembelajaran guru membuat anak merasa takut pada dunia matematika.
Proses pembelajaran matematika yang selalu menampilkan dan memproses angka-angka tanpa menggunakan pola pembelajaran yang tepat akan berdampak negative pada peserta didik. Peserta didik lebih cenderung menganggap Matematika sebagai pelajaran yang sangat sulit. Anggapan yang semacam ini akan terus menerus menjadi momok bagi setiap peserta didik dari generasi ke generasi. Pandangan semacam itu sebenaranya merupakan ungkapan dari beberapa orang yang putus asa dalam menyeleseaikan masalah matematika atau bahkan orang yang tidak mampu mengerjakan soal matematika. Ungkapan semacam itu sering diaminkan oleh banyak orang karena keterbatasan usahanya. Hal semacam inilah yang membuat peserta didik mengalami degradasi motivasi yang berdampak degradasi prestasi.
Banyak dijumpai siswa kelas VI yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan dan menyelesai\kan soal-soal matematika yang berhubungan dengan pengolahan dan menampilkan data. Lebih khusus pada menampilkan data dalam bentuk diagram lingkaran. Kesulitan sering ditemui pada peserta didik jika menyelesaikan soal tentang diagram lingkaran yang digambarkan dengan prosentase atau besar sudut. Rata-rata peserta didik merasa bingung kapan harus menggunakan ukuran sudur dan kapan menggunakan prosentase dalam membaca diagaram atau dalam menyelesaikan soal tersebut.
Kurangnya pemahamnan dalam membelajarkan materi tersebut membuat prestasi belajar peserta didik banyak yang tidak mencapai KKM dan ketuntasan belajar. Sesuai pretes yang dilaksanakan, reata-rata hasil belajar peserta didik kurang memuaskan atau masih di bawah KKM. Padahal KKM yang disepakati di SD Negeri Tegalsari 3 Tegal adalah 65. Analisa hasil evaluasi memberikan gambaran bahwa 70% peserta pretes mempunyai kesalahan pada soal tentang diagram lingkaran..
Pembelajaran Pola MEQIP merupakan pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual yang banyak melibatkan peserta didik dalam menemukan suatu konsep atau prinsip matematika. Pesan yang disampaikan adalah mengkondisikan peserta didik untuk menemukan kembali rumus, konsep atau prinsip dalam matematika melalui bimbingan guru setelah peserta didik melakukan penyelidikan. Metode inquiri dan penggunaan alat peraga menjadi hal yang sangat urgen dalam pembelajaran semacam ini. Efektifitas pembelajaran dan pengendalian diri untuk sabar dan percaya bahwa peserta didik akan mampu menemukan konsep yang diharapkan adalah menjadi karakteristik pembelajaran pola MEQIP.
Metode inquiri yang digunakan adalah metode penemuan terbimbing. Hal ini berkaitan dengan perkembangan peserta didik yang belum mempu menggunakan pola pikir yang terarah melalui paper tertentu tanpa bimbingan guru. Bimbingan guru dilaksanakan dalam bentuk serangkaian pertanyaan yang mengarah pada pengungkapan pengalaman belajar peserta didik, mengkomunikasikan pengalaman peserta didik dengan pesan yang akan diperoleh peserta didik serta membantu membantu mengarahkan prosess pembelajaran dalam mengerjakan LKS.
Harapan yang ada dari pembelajaran pola MEQIP adalah menguatnya konsep yang tertanam dan menjadikannya pengalaman yang menyenangkan dalam menggunakan kemampuannya untuk memperoleh dan mendapatkan pengetahuan baru. Peserta didik juga merasa bagian dari pembelajaran tersebut, sehingga ia merasa merupakan kegiatan yang ia lakukan merupakan miliknya . Perasaan seperti itu perlu dipupuk sehingga akan merasa senang untuk belajar matematika.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka permasalahan yang dapat diambil adalah apakah melalui pembelajaran berpola MEQIP dapat meningkatkan prestasi belajar matematika untuk materi menyajikan data dalam bentuk lingkaran pada siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 3 Tegal ?
C. Batasan Masalah
Untuk memberikan kepastian pelaksanaan program Penelitian ini maka dibatasi permasalahannya sebagai berikut.
1. Prestasi belajar yang diinginkan adalah hasil belajar siswa yang memenuhi KKM yang telah disepakati yaitu 65 dengan alat ukut tes tformatif pada tiap sikilusnya.
2. Penyajian data yang dilakukan dalam proses pembelajaran ini adalah penyajian data tunggal.yang jumlah subyeknya mudah dioperasikan menjadi data berbentuk prosentase.
3. Diagram lingkaran yang dikembangkan adalah diagram lingkaran dengan besar sudut sudut istimewa pada data prosentase
4. Peningkatan prestasi belajar matematika anak ditandai dengan peningkatan hasil tes tertulis anak pada setiap siklusnya.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pembelajaran matematika pola MEQIP dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI dalam menyajikan data berbentuk diagram lingkaran.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi guru
Guru mendapat pengalaman yang berharga untuk mengambil strategi dan memilih metode yang sesuai dengan suatu materi pembelajaran.
2. Manfaat bagi siswa
Siswa dapat menemukan konsep menyajikan data dalam bentuk diagram lingkaran sehingga kemampuan mengolah data dan menyajikannya dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
3. Manfaat bagi sekolah
Hasil penerlitian ini memberi sumbangan kepada sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan mutu pendidikan. Meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap mutu p;endiudikan akan memberikan hal yang sangat positif yaitu partisipasi masyarakat semakin tinggi terhadap sekolah.
F. Penjelasan istilah
Untuk membatasi pengertian yang ada dalam penelitian ini maka penulis menggunakan beberapa istilah yang diartikan sebagai berikut.
1. Peningkatan berarti Usaha untuk mencapai lebih tinggi (Poerwodarminta,1993:688)
2. Prestasi berarti hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dsb.)(Poerwodarminta, 1993 : 700).
3. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan lingkungan (Amin Sauyitno, Semarang, 2001 : 3).
4. Prestasi belajar diartikan bukti usaha yang dapat dicapai dalam belajar (Poerwodarmintal, 1993 : 162)
5. Menyajikan data adalah menampilkan serangkaian data dalam bentuk angka, tabel, atau gambar (diagaram). (M. Khafid Suyati, 2004:205)
6. Diagram adalah gambar yang berfungsi untuk memperlihatkan atau membaca sesuatu.(M. Khafid Suyati, 2004:205)
7. Diagaram lingkaran diartikan sebagai Gambar daerah lingkaran yang menggambarkan informasi data sesuatu (M. Khafid Suyati,2004:205)

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Teori Belajar
Tiga pilar utama yang menunjukkan bahwa guru telah bekerja secara profesional dalam melaksanakan tugas kependidikan adalah : a). Menguasai materi pembelajaran, b). Profesional untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik, dan c). Berkepribadian matang ( Herry Sukarman:2003, 2). Tiga pilar tersebut saling kait mengkait dan saling mendukung untuk meningkatkan kinerja pembelajaran. Kinerja pembelajaran menetukan tingkat keberhasilan dan kesesuaian hasil belajar peserta didik dengan tujuan yang telah ditentukan. Sedangkan tingkat keberhasilan dan kesesuaian hasil bejara peserta didik dengan tujuan sangat dipengaruhi oleh kinerja guru.
Penguasaan materi pembelajaran merupakan kemampuan strategis yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam rangka mendukung ketercapaian kompetensi secara efektif dan efisien. Sedangkan penyampaian materi pembelajaran yang baik dapat diartikan sebagai segala usaha guru untuk mengelola proses pembelajaran seghingga peserta didik dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan (enjoyfull learning), serta beraktivitas tinggi baik mental, phisik, sosial, dan emosinya ( Herry Sukarman:2003, 3). Hal ini dapat dicapai jika didukung oleh kepribadian guru yang matang dan kesadaran untuk mengelola proses pembelajaran dengan mentaati dan penerapkan prinsip-prinsip belajar dalam momentum yang tepat.
Ke depan, kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran, penyampaian materi pembelajaran, dan kepribadianya diharapkan semakin meningkat sehingga mampu membangun suasana pembelajaran yang produktif, kreatif dan inovatif. Ya00kni suatu pembelajaran yang mampu meningkatkan mutu lulusan. Karenanya, kemampuan didaktis menjadi titik sentral pembelajaran dan perlu terus dikembangkan secara profesional.
B. Teori Belajar Matematika
Menurut ET Rusefendi (dalam Lisnawati Simanjutak, 1993; 66-75) ada beberapa teori belajar matematika. Teori beljar tersebut sering dipakai dalam dunia pendidikan, terutama pendidikan matematika. Teori-teori tersebut misalnya Teori Belajar Bruner, Teori Belajar Throndike, Teori Belajar Jean Piaget, Teori Belajar Van Hiele, dan lain sebagainya.
Bruner tidak mengembangkan teori belajar yang sistematis. Dasar pemikirannya memandang bahwa manusia adalah pepmroses, pemikir, dan pencipta informasi. Oleh karenanya yang terpenting dalam belajar adalah cara-cara bagaimana seseorang memilih, mempertahankan, dan mentransformasikan informasi yang diterimanya secara aktif. Sehubungan dengan itu Bruner sangat mermberi perhatian pada maslah ayang dilakukan manusia dengan informasi myang diterimanya.
Menurut Bruner pada dasarnya belajar merupakan proses kognitif yang terjadi pada diri seseorang. Ada tiga proses kognitif yang terjadi dalam belajar, yaitu
(1) proses perolehan informasi baru, (2) proses mentrasnformasikan informasi yang diterima, (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.
Agar proses belajar lancar, menurut Bruner dalam bukunya Proces of Education ada tiga factor yang aharus diperhatikan guru dalam pembelajaran. Tiga hal tersebut yaitu (1) pentingnya memahami struktur mata pelajaran, (b) pentingnya belajar aktif (c) pentingnya nilai dari berfikir induktif. Perhatian utana dari pembelajaran seorang guru adalah pentingnya struktur mata pelajaran, kesiapan, intuisi, dan motivasi.
Menurut Thorndike , Belajar itu harus dengan mengaitkan antara pelajaran yang akan dipelajari anak didik dengan pelajaran yang telah diketahui atau yang telah dipelajari sebelumnya. Makin kuat kaitannya makin baik ia belajar. Penekanan dari teori Thorndike bahwa setiap pelajaran yang telah dikuasai akan memberikan rangsang yang kuat untuk memberikan stimulus respon dengan nilai yang baik.
Setelah beberapa dekade dan secara khusus sepuluh tahun berjalan dengan kurikulum 1994, pola-pola lama bahwa guru menerangkan konsep, guru memberikan contoh, murid secara individual mengerjakan latihan, murid mengerjakan soal-soal pekerjaan rumah hanya kegiatan rutin saja disekolah, sementara bagaimana keragaman pikiran siswa dan kemampuan siswa dalam mengungkapkan gagasannya kurang menjadi perhatian.
Para siswa umumnya belajar tanpa ada kesempatan untuk mengkomunikasikan gagasannya, mengembangkan kreatifitasnya. Jawaban soal seolah membatasi kreatifitas dari siswa karena jawaban benar seolah-lah hanya otoritas dari seorang guru. Pembelajaran seperti paparan di atas akhirnya hanya menghasilkan lulusan yang kurang terampil secara matematis dalam menyelesaikan persoalah-persoalan seharai-hari. Bahkan pembelajaran model di atas semakin memunculkan kesan kuat bahwa matematika pelajaran yang sulit dan tidak menarik.
Tahun 2004 pemerintah melaunching kurikulum baru dengan nama kurikulum berbasis kompetesi. Secara khusus model pembelajaran matematika dalam kurikulum tersebut mempunyai tujuan antara lain;
1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi
2. Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3. Mengembangkan kemampuan memcahkan masalah
4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan.
Sementara itu secara umum prinsip dasar dari kurikulum tersebut adalah bahwa setiap siswa mampu mempelajari apa saja hanya waktu yang membedakan mereka dalam ketuntasan belajar. Siswa tidak diperkenankan mengikuti pelajaran berikutnya sebelum menuntaskan pelajaran sebelumnya. Dengan demikian remedial-remedial akan sering dijumpai terutama siswa yang sering tidak tuntas dalam belajarnya
C. MEQIP
Mathematics Education Quality Improvement Program (MEQIP) merupakan Program Peningkatan Mutu Pembelajaran Matematika yang telah direview oleh pakar matematika dari beberapa Perguruan Tinggi ternama di Indonesia dan telah diujicobakan di beberapa propinsi di Indonesia. (Sukayati dkk.,2007:1)
Esensi dari pembelajaran pola MEQIP adalah proses pembelajaran yang mengkonstruk pengalaman-pangalaman peserta didik untuk mendapatkan pengalaman baru. Mengkomunikasikan pengalaman-pengalaman peserta didik diharapkan menggunakan alat peraga, metode inquiri dan menyelesaikan LKS yang didesain sedemikian rupa sehingga peserta didik merasa dirinya telah menemukan konsep baru atau memahami konsep dengan kuat. (Sukayati dkk.,2007:1)
Pola MEQIP dikembangkan merujuk keberhasilan pembelajaran yang digunakan dalam mata pelajaran IPA. Pembelajaran pola SEQIP (Saint Education Quality Improvement Program )dianggap berhasil memberdayakan anak dalam proses belajarnya. Selain menggunakan alat yang tepat, pembelajaran SEQIP lebih mengedepankan pembelajaran yang terencana, terpola dan berpusat pada siswa. Secara khusus Pola MEQIP diartikan sebagai pembelajaran yang menggunakan alat-alat MEQIP dengan pembelajaran yang terpola.
Dalam perkembangannya MEQIP dipakai tidak harus menggunakan alat-alat MEQIP. Alat peraga yang digunakan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi sesuai dengan kreativitas guru, yang dalam Pola MEQIP dikenal dengan nama APA (Alat Peraga Alternatif)
APA merupakan pelengkap dari alat peraga yang disarankan MEQIP yaitu APM (Alat Peraga MEQIP). Alat Peraga MEQIP merupakan alat-alat yang telah didesain sedemikian rupa oleh pabrik tertentu dengan lisensi dari PPPPTK Matematika Yogyakarta.
D .Pembelajaran Pola MEQIP
Pembelajaran pola MEQIP adalah pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual yang dikembangkan oleh Pusat Pengembangan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika Yogyakarta yang bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar dalam rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. Walaupaun pembelajaran pola MEQIP ini merupakan pembelajaran yang menggunakan property alat peraga matematika MEQIP tetapi model pembelajaran pola MEQIP tidaklah harus menggunakan alat peraga yang dikembangkan dan dilisensikan PPPPTK Matematika Yogyakarta.
Keunggulan dari pembelajaran pola MEQIP adalah peserta didik berlatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir matematis dan kritis terhadap suatu permasalahan. Secara rinci tujuan pembelajaran pola MEQIP adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di SD?MI melalui pemberdayaan alat peraga matematika dan pemanfaatan lingkungan belajar sehingga siswa tidak hanya menghafal tetapi memahami konsep, bernalar dan berkomunikasi, menguasai dan menerapkan matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari serta menertapkan mata pelajaran matematika dalam mata pelajaran lain agar dapat membangun dasar-dasar matematika yang kuat untuk pembelajaran selanjutnya di masa yang akan datang.(Depdiknas,2007:68)
Dalam buku pedoman pelatihan MEQIP, pembelajaran pola MEQIP menggunakan karakteristik meqip yaitu:
(1) guru sebagai model
(2) mulai dari ketrampilan sederhana ke ketrampilan kompleks
(3) memadukan pengalaman dan proses pembelajaran
(4) konkrit
(5) menekankan pada metode-metode praktis
(6) relevan untuk SD/MI
(7) isi disesuaikan dengan orang yang terlibat
(8) mengarahkan komunikasi yang efektif
(9) memfokuskan pada kebutuhan kelompok
(10) konstruktifistik
(11) kontrol kualitas selama proses pembelajaran
(12) waktu efesien
E. Diagram Lingkaran
Setelah data diwujudkan dalam sebuah tabel kita juga bisa menampilkannya dalam bentuk diagram. Diagram yang akan kita pelajari adalah lingkaran. Diagaram lingkaran diartikan sebagai Gambar daerah lingkaran yang menggambarkan informasi data sesuatu (M. Khafid Suyati,2004:205)
Langkah-langkah menampilkan prosentase / besar sudut suatu data / nilai dalam bentuk diagaram lingkaran.
1. Buat tabel dengan kolom no, nilai, frekwensi dan prosentase / besar sudut
2. Masukkan data pada tabel
3. Hitung prosentase / besar sudut tiap nilai dari keseluruhan data
4. Isikan pada kolom prosentase / besar sudut
5. Gambar prosentase / besar sudut pada daerah lingkaran yang sesuai dengan prosentase yang diperopleh tiap nilai.
6. Berilah warna yang berbeda tiap daerah pada diagram lingkaran tersebut.
7. Beri keterangan maksud warna dari tiap bagian diagram lingkaran di bawah diagram lingkaran tersebut.
Contoh : Tabel data nilai Matematika siswa kelas VI
No Nilai Frekwensi Prosentase
1 5 2 2 : 20 x 100 % = 10 %
2 6 4 4 : 20 x 100 % = 20 %
3 7 6 6 : 20 x 100% = 30 %
4 8 5 5 : 20 x 100 % = 25 %
5 9 3 3 : 20 x 100 % = 15 %
Jumlah 20 100 %

Diagram gambar nilai matematika kelas VI

Tabel nilai matematika siswa kelas VI
No Nilai Frekwensi besar sudut
1 5 2 2 : 20 x 3600 = 360
2 6 4 4 : 20 x 3600 = 720
3 7 6 6 : 20 x 3600 = 1080
4 8 5 5 : 20 x 3600 = 900
5 9 3 3 : 20 x 3600 = 540
Jumlah 20 3600

Diagram lingkaran nilai matematika kelas VI

F. Kerangka Berfikir
Pembelajaran berpola MEQIP memberikan penekanan terhadap proses pembelajaran yang menjadikan hasil belajar lebih bermakna. Kebermaknaan tersebut karena setiap materi dalam pembelajaran selalu dikaitkan dalam kehidupan peserta didik.Hal yang demikian menyebabkan hasil belajar peserta didik akan lebih tertanam makin kuat. Pengalaman yang didapat peserta didik selalu menjadi acuan untuk memperoleh pengalaman berikutnya
Persaingan dan kebutuhan peserta didik dalam memperoleh hasil belajar akan menjadi sasaran utama keinginan masyarakat. Tuntutan masyarakat untuk mendapatkan mutu pendidikan yang baik bagi anaknya memberikan sinyal bagi guru untuk selalu mengembangkan pembelajaran yang inovatif. Pengembangan pembelajaran dapat dilakukan dengan mengadakan pembelajaran yang dilakukan oleh para ahli / peneliti pendidikan.
MEQIP merupakan salah satu pembelajaran inovatif yang dikembangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan pada mata pelajaran matematika.. MEQIP sudah diujicobakan d berbagai daerah dan direview oleh beberapa perguruan tinggi ternama di Indonesia sehingga pola pembelajarannya akan sesuai dengan tuntutan dunia pendidikan saat ini.
Pengolahan data sebagai salah salah satu materi mata pelajaran matematika sering menjadikan mutu pendidikan matematika dinilai rendah. Hal semacam ini berkaitan dengan penilaian masyarakat secara umum yang didasarkan pada perolehan hasil UAS/UASBN. Soal UAS UASBN yang sering digunakan pada materi pengolahan data adalah menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan diagram lingkaran. Bila anak mengalami kesalahan di soal tentang diagram lingkaran maka masyarakat akan menilai pendidikan matemnatika secara umum kurang bermutu.
G Hipotesis Tindakan
Berdasar pada tiga pilar utama guru yang profesional, teori belajar Brunner untuk mengembangkan pembelajaran yang sistematis, Prinsip penmbelajran kontekstual dan penggunaan alat peraga matematika, maka untuk meningkatkan prestasi belajar matematika dengan materi menyajikan data berbentuk diagram lingkaran pada siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 3 Tegal, penulis merumuskan tindakan melalui pembelajaran matematika berpola MEQIP dapat meningkatkan prestasi belajar matematika untuk materi menampilkan data dalam bentuk diagram lingkaran pada siswa kelas VI SD Negeri Tegalsari 3 Tegal.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.. Setting Penelitian
1. Tempat penelitian : SD Negeri Tegalsari 3 Tegal
2. Subyek penelitian : Peserta didik kelas VI
3. Obyek penelitian : Peningkatan prestasi belajar siswa
4. Waktu penelitian : Bulan Maret Tahun 2008/2009
B. Rencana Tindakan
1. Persiapan :
a. Menganalisa materi dan kemampuan prasarat yang dikuasai siuswa.
b. Menyusun silabus, RPP, Instrumen penilaian dan lembar pengamatan.
c. Pembuatan alat peraga dan tugas yang harus dilakukan siswa untuk mempersiapkan alat peraga yang sejenis.
2. Rencana tindakan setiap siklus
Siklus pertama
Pada Siklus 1 Diagram yang ditampilkan adalah diagram yang ditutup menggunakan kertas sebagai model lingkaran/bagian lingkaran sebagai wakil frekwensi data
Pertemuan 1
Kegiatan awal / Pendahuluan
a. Guru menyampaikan indicator pembelajaran yang akan dikembangkan.
b. Guru menuliskan judul materi di papan tulis.
c. Dengan menggunakan Tanya jawab, guru melakukan apersepsi untuk mengingat kembali pengetahuan prasarat yang sudah dikuasai siswa
d. Guru menyajikan masalah kontekstual 1 ( dalam charta ditempel pada papan tulis)
e. Guru memberi kesempatan pada siswa untuk menjawab hasil dari cara yang sudah dikuasai peserta didik. Semua jawaban baik yang salah dan benar ditampung. Dan anak diberikan kesempatan berargumentasi terhadap semua jawaban yang telah diberikan.
f. Agar dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan benar, maka peserta didik dibimbing untuk menemukan cara menampilkan data dalam bentuk diagram lingkaran.
Kegiatan Inti
a. Guru mendemokan untuk memberi alur berpikir bagaimana menampilkan data berbentuk diagram lingkaran
b. Guru memeberi petunjuk membaca diagram lingkaran.
c. Peserta didik membuat model bagian daerah lingkaran dengan kertas warna yang berbeda (daerah lingkaran penuh, daerah, setengah lingkaran, seperempat daerah lingkaran, daerah seperdelapan daerah lingkaran dengan ukuran daerah lingkaran yang tetap/ 1 ukuran )
d. Peserta menempelkan model daerah lingkaran/ bagian model daerah lingkaran.
e. Peserta didik menyimpulkan daerah lingkaran untuk menggabarkan prosentase data
f. Peserta didik membentuk kelompok yang terdiri dari 4 anggota, salah satu menjadi ketuanya.
g. Tiap kelompok mengerjakan LKS untuk menemukan cara menampilkan diagram lingkaran
h. Guru memberikan petunjuk agar tiap anggota kelompok dapat bekerja sama untuk menyampaikan hasil kerja menemukan cara menampilkan data dalam bentuk diagram lingkaran.
i. Guru melakukan pengamatan, memberi motivasi, dan memberi bimbingan individu atau kelompok. Bila terdapat masalah yang sama maka guru akan mengadakan petunjuk secara klasikal. Sehingga setiap kelompok bisa melanjutkan aktivitasnya mengerjakan LKS.
j. Sebelum pengumpulan hasil kerja ketua kelompok membacakan hasil kerja pada anggotanya.
k. Guru bersama seluruh peserta didik menyimpulkan hasil kerja dan diskusi kelas yaitu:
Simpulan :
Warna pada diagram lingkaran menunjukkan banyaknya subyek
/ frekwensi dari data yang diperoleh

l. Guru membimbing peserta didik untuk menyelesaikan masalah kontekstual dan sekaligus mengecek jawaban awal peserta didik dengan jawaban yang benar.
m. Guru memberikan soal-soal yang sudah dipersiapkan untuk dikerjakan sebagai latihan.
Kegiatan penutup
a. Guru menekankan lagi cara menampilkan data menggunakan diagram lingkaran
b. Guru memberikan motivasi dan memberiukan PR sebagai latihan di rumah
Pertemuan 2
Kegiatan awal/Pendahuluan
a. Guru memgajak untuk membahas soal latihan yang dikerjakan peserta didik di rumah .
b. Beberapa peserta didik mengerjakan hasil PRnya di papan tulis.
c. Guru memperhatikan hasil kerja siswa yang lain.
d. Pemberian nilai soal latihan/PR.
Kegiatan inti
a. Guru mengadakan penilaian (tes formatif 1)
b. Peserta didik membahas soal tes formatif 1
c. Tanya jawab sekitar hasil kerja tes peserta didik menyelesaikan soal tes formatif 1
Kegiatan akhir/penutup
a. Guru menegaskan lagi cara menampilkan data berbentuk diagram lingkaran.
b. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk bertanya tentang materi atau pembelajarannya.
c. Guru memberi soal untuk dikerjakan di rumah.
d. Guru menutup pelajaran

Siklus kedua
Pada siklus ke dua pembahasan ditekankan pada menggambar diagram lingkaran dengan besar sudut menggunakan busur derajat
Kegiatan awal/Pendahuluan
a. Guru memgajak untuk membahas soal latihan yang dikerjakan peserta didik di rumah .
b. Beberapa peserta didik mengerjakan hasil PRnya di papan tulis.
c. Guru memperhatikan hasil kerja siswa yang lain.
d. Pemberian nilai soal latihan/PR.
e. Guru menegaskan lagi cara menampilkan data melalui diagream lingkaran
f. Guru memasang charta yang ditempel di papan tulis untuk menyajikan
masalah kontekstual 2
g. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk menjawab masalah kontekstual. Semua jawaban ditampung lebih dulu.
Kegiatan inti
Guru menampilkan diagram lingkaran yang dibuat siswa
a. Guru mengukur sudut tiap warna yang ada pada diagram lingkaran tersebut
b. Pesrta didik menggambar diagram lingkaran seukuran dari model.
c. Peserta didik membandingkan dengan model tempelan kertas warna pada dua diagram yang sama
d. Peserta didik menyimpulkan hasil kerjanya

Simpulan :
Menggambar diagram lingkaran untuk menyajikan data akan lebih tepat menggunakan busur derajat sebagai ukuran sudutnya.

Kegiatan akhir/penutup
a. Guru menegaskan lagi cara menampilkan data dalam bentuk diagram lingkara
b. Guru memberi kesempatan pada peserta didik untuk bertanya tentang materi atau pembelajarannya
c. Guru menutup pelajaran.
3. .Pelaksanaan tindakan
Merealisasikan rencana tindakan sesuai dengan rencana tindakan .
4. Refleksi
Berdasarkan hasil analisis, dilakukan perbaikan terhadap rencana pembelajaran yang lebih menekankan efektifitas menampilakan data dalam bentuk diagram lingkaran. Tahap-tahap tersebut tersajikan secara skematis sebagasi berikut.

C. Pengumpulan data dan instrumennya
Penelitian tindakan kelas ini menggunakan dua peubah yaitu prestasi belajar dan pola MEQIP. Indikator keberhasilan penilaian ini adalah hasil nilai rata-rata kelas di atas ketuntasan belajar yaitu 70 dan nilai tiap peserta didik minimal sama dengan KKM yang telah diutentukan yaitu 65..
Untuk mengumpulkan data diperlukan seperangkat tes tertulis yang dilaksanakan sebagai tes formatif 1 dan 2. Keberhasilan formatif 1 dan kekurangannya akan direfleksi sebagai dasar penyusunan tes formatif 2. Lembar Pengamatan digunakan untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran di pertemuan / siklus berikutnya. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan peneliti terhadap proses pembeljaran peserta didik dan pengamatan teman sejawat terhadap peneliti. Hal ini diperlukan untuk menjadi pedoman bahwa pembelajaran pola MEQIP dilakukan sesuai dengan alur yanmg telah direncanakan.
Tabel berikut merupakan gambaran dari cara pengumpulan data dan instrumennya.
No Peubah Indikator Data Pengumpulan Instrumen
1 Prestasi belajar Dapat menyelesaikan soal dan masalah kontekstual Skor Tes formatif 1 dan 2 Lembar tes tertulis
2 Pembe
lajaran Matematika Pola MEQIP a. bertanya
b. berpendapat
c. Menyimpulkan
d. Partisipasi berdiskusi Rangkaian proses pembela
jaran dalam pengama
tan Pengamatan Lembar pengamatan

E. Analisis Data
Data yang terkumpul diolah dan dianalisis untuk dapat dipertanggungjawabkan.
Data yang diperoleh dari tes formatif digunakan analisis data kuantitatif dan data yang diperoleh dari hasil pengamatan digunakan analisis data kualitatif..
1. Data tes
Data yang diperoleh dari hasil tes dianalisis untuk dibandingkan pada setiap aspek dan indikator yang terjawab. Hasil tes berupa skor yang diperoleh peserta didik yang kemudian diolah menjadi nilai tes setiap pelaksanaan penilaiannya. Terdapat tiga kali tes yang diadakan untuk dibandingkan. Tiga tes tertulis tersebut adalah tes data awal, tes formatif 1 dan tes formatif 2. Instrumen tes , pedoman penilaian dan analisisnya terlampir pada halaman 57.
2. .Data Pengamatan
Data yang diperoleh dari hasil pengatan berupa seperangkat nilai kualitatif.. Pengamatan dilakukan pada saat terjadi interaksi guru dengan siswa (tanya jawab), ketika proses menemukan suatu konsep (mengerjakan LKS) dan bagaimana mengungkapkan pendapat saat presentase hasil diskusi. Aspek yang dinilai berupa ketrampilan bertanya, menjawab, menyimpulkan, dan berpendapat. Rubrik dan tabel analisisnya terlampir pada hal 54-57. Dibutuhkan minimal 3 pengamat untuk memperoleh data pengamatan yang akurat. Pengamatan terhadap pembelajaran yang dilakukan observer digunakan untuk mengontrol peneliti agar proses pembelajaran sesuai dengan pola MEQIP. Untuk memudahkan kerja pengamat, maka peneliti menggunakan rambu-rambu pengamatan yang bersifat terbuka.
Rambu—rambu tersebut misalnya :
1. Apakah pembelajaran sudah berjalan sesuai dengan pola MEQIP ?
2. Apakah yang menjadi kendala dalam proses pembelajaran tersebut ?
Secara rinci rambu-rambu pengamatan terdapat pada lampiran pengamatan.
D. Indikator Keberhasilan Penelitian
Indikator keberhasilan PTK ini adalah perubahan nilai rata-rata kelas dari 62 menjadi minimal 70 dan bila ketuntasan belajar tiap siswa mencapai nilai KKM 65. Indikator keberhasilan tersebut diungkapkan dalam bentuk tabel berikut.
No Indikator Konmdisi
awal Target
Siklus 1 Target
Siklus 2
1 2 3 4 5
1 Nilai rata-rata 62 66 70
2 Jumlah yang mencapai KKM 30% 70% 100%

DAFTAR PUSTAKA

Amin Suyitno dkk.2001. a. Matematika Sekolah I. Semarang : FMIPA UNNES
Akhmad D Marimbah, dalam Syaiful Bahri Djamarah. Pemanfaatan Alat Peraga Matematikan SD. 1996. Yogyakarta.
Depdiknas. 2007. Buku Pedoman Pelatihan meqip. Jakarta
.DepdiknasRI. 2006 KTSP 2006: Jakarta
Herry Sukarman.(2003). Dasar-Dasar Dikdaktik dan Penerapannya dalam Pembelajaran. Jakarta: Depdiknas.
Lisnawati Simanjutak. 1993. Metode Mengajjar Matematika . Jakarta: Rineka Putra
Mulyani Sumantri dan Johar Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV. Mulyana.
M. Khafid Suyati. 2004. Pelajaran Matematika 6. Jakarta. .Erlangga
Purwodarminta.1984. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sukayati dkk. 2007.Petunjuk Penggunaan Alat Peraga Matematika Meqip. Yogyakarta
Soewarsono dan Sugiharto (2008) Silabus dan Bahan Ajar Pendidikan Matematika SD. Yogyakarta

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s