TEMAN BICARA YANG BAIK

Sebagai orang tua, kalau kita melihat, mengerti, dan mengetahui bahwa nilai anak kita jelek, mengapa anak-anak menjadi ketakutan? Mengapa suami menjadi takut untuk bercerita kepada istri? Lalu mereka berbohong, mereka menjadi tidak jujur. Mengapa anak-anak tidak jujur menceritakan nilainya kepada orang tuanya? Itu semua karena marah yang berlebihan.

Istri harusnya penolong bagi suami. Bukan penggonggong, bukan perongrong. Orang tua harusnya menjadi tempat mengadu bagi ank-anak. Ketika anak merasa gelisah karena nilainya jelek, dia pulang ke rumah dan bercerita kepada kita orang tuanya. Saatnya orang tua memberikan tempat perlindungan, memotivasi mereka dengan kata-kata dorongan.

Orang tua perlu menilai dengan objektif, apakah anaknya sudah berusaha sungguh-sungguh? Yang penting lihtlah usahanya! Klo memang dia belum sungguh-sungguh. Maka dorong dia, temani dia belajar untuk berusaha dengan sungguh-sungguh. Seandainya dia sudah belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi hasilnya memang belum maksimal, maka orang tua harus mengutamakan untuk melihat proses, memuji karakter, dan baru kemudian prestasi.

Ketika orang tua marahnya wajar-wajar saja, tidak berlebihan, saya yakin anak tidak akan takut untuk jujur. Ketika istri bisa memahami kesalahan suami, bisa memahami kegagalan dan kerugian suami, bahkan memberikan kata-kata dorongan, kata-kata yang membuat suami merasa diterima, maka ia akan merasa bahwa rumah merupakan tempat untuk pulang.

Apabila suami merasa bahwa istri adalah teman bicara, teman hidup yang baik, maka dia akan berani bahkan senang bercerita dan berbicara dengan istri. Tetapi jika pasangan bukan merupakan teman bicara yang baik, maka dia akan menjadi pendiam, bebicara pendek-pendek. Suatu ketika kalau pasangannya bertanya, “Bagaimana keadaan di kantor?” Baik dan titik. Dia lebih senang berbicara dengan teman di kantor. Atau ngobrol sampai malam di cafe dan pulang hanya tinggal tidur. Suami-istri tidak berbicara lagi, karena pasangan bukan merupakan teman berbicara yang baik.

Karena itu mari kita belajar bijaksana dengan menjadi teman bicara yang baik. Jadilah teman bicara bagi pasangan, Teman bicara bagi anak-anak. Ketika kita mendengar sesuatu yang tidak enak, mendengar sesuatu yang tidak baik, tetapi mereka berani menyampaikannya dengan jujur, mari kita hargai kejujuran itu dengan tanggapan yang objektif, agar pasangan kita, anak-anak kita tetap terus berani terbuka.

Marilah kita bangun hubungan dengan selalu bercerita kalau ada apa-apa. Karena kalau suami tidak bercerita kepada istri, istri tidak bercerita kepada suami, anak-anak tidak bercerita kepada orang tua, maka tidak lama lagi, bersiap-siaplah menghadapi kejutan-kejutan yang betul-betul mengagetkan kita. Tiba-tiba pasangan selingkuh, tiba-tiba anak hamil di luar nikah, tiba-tiba anak terlibat narkoba. Mengapa teresa tiba-tiba? Karena putus komunikasi. Mengapa putus komunikasi? Karena selama ini mungkin kita bukan teman bicara yang baik, bukan pendengar yang baik. Karena itu, mari menjadi orang bijaksana dengan belajar menjadi teman bicara yang baik. Tanggapilah sesuatu secara objektif, supaya pasangan dan anak-anak kita berani berbicara dengan kita. Jangan sampai anggota keluarga kita takut kepada kita. Tetapi biarlah mereka tetap hormat kepada kita. Kalau kita menjadi pendengar yang baik dan perespon yang bijaksana, maka kita akan mendapat hormat dan kasih sayang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s