CITA-CITA WARISAN

Ini kisah tentang dua keluarga. Dua-duanya miskin, dua-duanya sedang sakit keras. Dua-duanya hampir meninggal dunia. Keluarga pertama, anaknya datang kepada bapaknya, “Pak, sebelum bapak ada apa-apa, maaf ya pak ya!” Saya mau bertanya, “Rumah kita kecil sekali pak, sebenarnya apa sih, cita-cita bapak?” Bapaknya mengambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, lalu berkata kepada anaknya. “Nak, bapak bercita-cita punya rumah besar sekali, di belakang rumah ada kolam besar sekali, di puncak ada villa besar sekali, sebab bapak punya usaha besar sekali.” Lalu anaknya berkata, “Pak, tapi rumah kita kecil!” Yah nak, namanya juga cita-cita, belum tercapai nak. Tapi, bapak hidup hemat untuk menyekolahkan kamu. Supaya kamu bisa menyelesaikan cita-cita bapak. Setelah berkata seperti itu, bapaknya meninggal dunia.

Keluarga yang kedua, keadaannya juga miskin, rumahnya hampir roboh, bapaknya sakit keras. Anaknya datang kepada bapaknya, “Pak, sebelum bapak ada apa-apa, saya mau tanya, maaf pak ya!” Rumah kita kecil sekali pak, bapak sebenarnya cita-citanya, apa sih? Dengan mata yang menerawang, bapaknya mengambil nafas dalam-dalam, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, lalu menjawab anaknya. “Nak, bapak tidak punya cita-cita.” Jawabnya, lalu meninggal dunia.

Nah, sama-sama meninggal dunia, keluarganya sama-sama miskin. Satu punya cita-cita, dan yang lainnya tidak punya cita-cita. Yang punya cita-cita, sebelum meninggal, dia bercerita tentang cita-citanya. Dia hidup sederhana untuk menyekolahkan anaknya. Supaya anaknya meneruskan cita-cita orang tuanya.

Sambil mengingat-ingat, anaknya menguburkan bapaknya. “Benar juga, ya! Bapak hidup sederhana sekali. Saya Masih ingat bagaimana bapak membuang celana kolornya, diambil lagi, ditambal, dipakai lagi. Ia hidup begitu sederhana, supaya bisa menyekolahkan saya. Begitu anaknya berpikir. Maka si anak berjuang menyelesaikan kuliahnya, dan hidup dengan baik.

Apa yang mau saya katakan dengan kisah ini? Bahwa memilki cita-cita yang besar, tidak tercapai tidak rugi. Karena kita bisa wariskan pada anak-anak kita. Sama-sama meninggal, sama-sama mengakhiri hidup. Bahkan mungkin sama-sama meninggal dalam keadaan miskin. Tapi yang satu miskin tanpa bisa mewariskan apa-apa. Sudah niskin tidak punya cita-cita lagi. Karena itu, milikilah cita-cita yang besar, rencana besar, pikiran besar. Karena hasil besar hanya muncul dari pikiran besar. Perbuatan besar hanya muncul dari rencana besar. Mulailah dengan rencana dan cita-cita yang besar. Mengebu-gebu di situ, kalau tidak tercapai kita wariskan kepada anak-anak kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s