APA KABARNYA IN K 13 KOTA MALANG?

APA KABARNYA IN K 13 KOTA MALANG?

Setelah melalui tahap demi tahap yang berlangsung dalam waktu yang relatif lama dan melelahkan, akhirnya para IN K13 Kota Malang mulai menjakankan tugasnya melatih para guru yang ada di Kota Malang. Tahapan ini, dilalui setelah sebelumnya para IN K13 ini dilatih terlebih dahulu oleh para narasumber yang khusus untuk kelas 1 dan 4 SD diadakan di Kabupaten Sampang tepatnya di Kecamatan Camplong. Para IN K13 yang dilatih ini berasal dari hasil seleksi administrasi yang keputusan akhirnya ditentukan sepenuhnya oleh LPMP Jawa Timur. Namun, dibalik itu semua, sebenarnya masih banyak calon-calon IN K13 khusus yang langsung mendaftar secara online ke Kemendikbud yang hingga saat ini menunggu panggilan untuk di-DIKLAT. Mereka semuanya belum dipanggil untuk diklat oleh LPMP. Para calon IN K13 yang mendaftar langsung ini, sebenarnya sudah merasa siap untuk menjadi IN K13 serta siap untuk menjalankan tugasnya secara baik dan bertanggung jawab. Sebagian besar calon IN K13 yang mendaftar langsung secara online ini, berlatar belakang pendidikan S2 yang sudah lulus sebagai Magister Pendidikan. Mereka merasa tidak diberi kesempatan untuk mendaftar menjadi calon IN K13 melalui DIknas setempat. Karena disinyalir Diknas dan LPMP cenderung mendaftarkan guru-guru yang dikenal dan dekat dengan pejabat terkait. Oleh karenanya mereka mendaftar langsung ke Jakarta secara online.

Dari hasil pengamatan dan berdasarkan meta analisis terhadap keberhasilan para IN K13 yang telah menatar para guru di Kota Malang, maka dapat diberikan ulasan berikut.

1. Sebagian besar  IN K13 terdiri atas para guru yang masih relatif  muda atau yunior

2. IN K13 yang berjenis kelamin perempuan sangat dominan

3.  Cara penyampaian IN K13 tentang materi yang dibawakan cenderung kurang disukai audien

4. Orientasi penyampaian IN K13 baru terfokus pada pembicara sendiri

5. Sebagian besar guru sasaran belum memahami meteri pelatihan yang disampaikan IN K13

Kelima alasan yang menjadi dasar kurang berhasilnya IN K3 dalam menjalankan tugasnya sebagai instruktur dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Guru-guru yang terseleksi sebagai IN K13, sebagian besar masih berpendidikan terakhir S1 dan baru diangkat sebagai PNS, sehingga ada kesan “jeruk makan jeruk” karenanya para IN K13 kurang menguasai kontent, sedangkan guru sasaran yang menjadi audiennya adalah guru-guru yang lebih senior bahkan ada yang sudah lullus sebagai magister pendidikan

2. Dengan alasan untuk implementasi “public Comunication” yaitu supaya disenangi banyak audien, maka para pengambil kebijakan pada dinas pendidikan dan LPMP cenderung mengambil guru-guru perempuan yang dipilh menjadi IN K13.

3. Meskipun yang menjadi IN adalah seorang Bu Guru yang cantik sekali, namun bagi guru-guru sarasan yang memang benar-benar ingin memahami tentang pembelajaran dengan pendekatan “scientific” pada kurikulum 2013, maka cara-cara penyampaian yang monotun, hanya duduk dan tidak ada kesempatan bertanya secara interaktif semacam itu kurang disenanginya, karena guru-guru sasaran belum memahami dan merasa masih bingung setelah pulang pelatihan

4. Dengan kurangnya penguasaan terhadap materi yang akan dilatihkan, maka para IN K13 cenderung mengutamakan kepuasan diri sendiri dan mengabaikan audien dan bobot kontent. Jadi, asal disenangi para audien IN tidak terlalu memasalahkan tentang perilaku audien yang ada dugaan “kelewat” batas,dimana harusnya ada batas-batas tertentu pergaulan antara seorang perempuan dengan laki-laki. Apalagi hal ini, menyangkut Bu Guru dan Pak Guru yang wajib berperilaku baik di masyarakat

5. Meskipun sudah mengikuti pelatihan K13 yang disampaikan para IN K13 selama 5 (lima) hari secara penuh, namun para guru sasaran kurang memahami tentang seluk-beluk K13. Hal ini terbukti, para guru sasaran masih bingung dan lama serta kesulitan dalam mengisi raport, pada raportan semester genap yang baru lalu.

Ada bebeapa hal yang penting untuk diperhatikan oleh guru yang menjadi pembicara dalam suatu kegiatan pelatihan, yaitu: (1) orientasi pelatihan; (2) gaya belajar audien; dan (3) situasi kelas. Orientasi pelatihan menyangkut penekanan pada tujuan pelatihan, yang terdiri atas: (a) orientasi pada pembicara; (b) orientasi pada audien; atau (c) orientasi pada materi. Pembicara yang ingin cepat populer dan disenangi audien, cenderung berorientasi pada pembicara dalam melaksanakan pelatihan. Tak peduli audien mengerti atau tidak tentang materi yang dibawakan. Tak peduli juga, apakah materinya sudah betul apa tidak yang penting audien senang pada orang yang melatihnya.

Gaya belajar audien meliputi: (a) gaya belajar visual; (b) gaya belajar audio; dan (c) gaya belajar kinestetik. Bagi audien yang memiliki gaya belajar audio, maka mereka cenderung tidak senang kalau terlalu banyak diberi tugas membaca ataupun merangkum. Begitu juga bagi yang bergaya belajar kinestetik, mereka tidak akan betah apabila disuruh duduk terus seharian dari jam 08.00 – 17.00, mereka akan bosan dan tidak menyenangi metode belajar semacam itu.

Adapun situasi belajar yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pelatihan yaitu: (a) kelas senyap; (b) kelas kelas tertib; dan (c) kelas disiplin. Dari ketiga situasi belajar tersebut, maka kelas disiplin adalah merupakan situasi belajar yang paling ideal. Karena, dalam kelas disiplin pembelajaran dilaksanakan dengan bervariasi. Di dalamnya ada tanya jawab, diskusi, kerja kelompok dan semua peserta melaksanakan tugasnya masing-masing dengan disiplin. Berbeda dengan kelas senyap, yang selalu sepi, tidak ada aktivitas belajar yang efektif dalam kelas ini. Keadaan kelas menjadi sunyi dan sepi, karena peserta disuruh menulis terus sedangkan pelatih mendikte.Demikian juga dengan kelas tertib, keadaan kelas selalu tertib karena semua peserta takut pada pelatihnya. Para peserta takut kalau dimarahi pelatih, mereka takut “di-ceng” dan tidak diluluskan.

Dengan ulasan-ulasan seperti terurai di atas, maka saya sebagai guru dapat mengajukan usul dan imbauan-imbauan kepada para pejabat terkait yang ada di Dinas Pendidikan dan LPMP, untuk mengadakan evaluasi terhadap kinerja para IN K13 yang baru saja selesai melaksanakan tugasnya sebagai instruktur nasional kurikulum 2013. Selain itu, ke depannya supaya diadakan seleksi nasional secara ketat yang disertai test potensi akademik dalam merekrut para calon IN K13. Utamakan para guru yang sudah lulus S2 untuk menghindari “jeruk makan jeruk”, serta jangan sampai ada indikasi para pejabat dinas pendidikan dan LPMP “menafikkan” output-output dari dunia pendidikan. Kalau tidak kita sendiri, siapa lagi yang mau menghormati dan menghargai para guru yang memiliki latar pendidikan terakhir lebih tinggi.

Akhirnya, doa dan harapan yang tinggi, semoga artikel ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiiin.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s